KEMANA PENDIDIKAN KITA MELANGKAH ?
Oleh : Humaidi Mufa
Pendidikan Indonesia lahir melalui semangat perjuangan. Ki Hajar Dewantara, Bapak pendidikan nasional, telah menanamkan nilai-nilai luhur bahwa pendidikan sejatinya adalah sebuah proses pembebasan atau membebaskan dari kebodohan, ketidakadilan, dan penindasan. Ia selalu bermimpi tentang pendidikan yang kemudian menghargai keberagaman, menggali potensi setiap anak, dan menjadikan mereka manusia seutuhnya.
Namun realitas hari ini sering kali jauh dari semangat itu. Ketimpangan akses pendidikan masih menjadi luka lama yang tak kunjung sembuh. Anak-anak di kota besar menikmati teknologi, kurikulum internasional, dan berbagai fasilitas penunjang, sementara di pelosok negeri, banyak yang masih bersekolah tanpa kelas, tanpa buku, bahkan tanpa guru. Sistem pendidikan kita seperti memberi ruang lebih bagi mereka yang sudah punya, dan seakan menutup harapan bagi yang tidak.
Selain itu, kekakuan birokrasi dan penyeragaman identitas juga menjadi masalah. Pendidikan seharusnya lentur, menyesuaikan dengan konteks sosial dan budaya setempat. Tapi kurikulum yang terlalu sentralistik sering kali salah dan gagal dalam membaca kebutuhan nyata di lapangan. Anak-anak dipaksa untuk menghafal, mengejar nilai, dan lulus ujian bukan untuk memahami, bertanya, dan berpikir kritis. Mereka dimanjakan dengan siklus datar yang akhirnya menjadikan pendidikan hanya sebatas aksesoris kehidupan.
Kemudian yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah pendidikan kita mulai terlihat seperti komoditas. Sekolah dan lembaga pendidikan hanya berlomba menjual "branding", akreditasi, dan fasilitas, seolah pendidikan adalah produk, bukan proses pembentukan karakter dan akal budi. Pendidikan mahal menjadi simbol status, bukan sebuah hak dasar yang harus terpenuhi.
Lalu, di tengah semua ini, masihkah kita setia pada cita-cita awal?
Refleksi ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengajak kita semua baik pemerintah, pendidik, orang tua, dan siswa untuk mari bersama kembali ke akar. Pendidikan bukan soal angka, ranking, atau gengsi, melainkan tentang manusia. Tentang membuka pikiran, menumbuhkan hati, dan menyalakan api harapan.
Sudah saatnya kita berani mengevaluasi, apakah sistem yang kita pertahankan selama ini benar-benar memerdekakan, atau justru membelenggu? Apakah kita masih mendidik dengan cinta, atau sekadar menjalankan tuntutan kurikulum?
Pendidikan Indonesia harus kembali menjadi ruang tumbuh dan berkembang bukan hanya sekedar tempat belajar, tapi tempat menemukan jati diri, menumbuhkan empati, dan membangun masa depan yang inklusif dan berkeadilan. Karena sejatinya, pendidikan bukan untuk pasar, bukan untuk angka, tapi untuk manusia. (HM)
Tulisan Lainnya
ABOUT US
By: Jiddah Zainab Bicara "Tentang Kita" adalah pembicaraan tentang keseluruhan dari Cipta, proses perjalanan dan cita- cita dari setiap personel, baik unsur atau struktur, dari A sampa
Tercatat dalam Sejarah: Antara Lupa dan Wafa’
Oleh: Humaidi Mufa Tidak semua yang membangun sejarah merasa penting untuk tercatat. Banyak tokoh besar dalam lintasan waktu yang berjalan tanpa pamrih, tanpa mencatat namanya sendiri
SAFINAH NAJA
Oleh:Jiddah Zainab (Tribute to Sang Kyai 140621 – 140625) Malam itu laut tenang, Langit ditemani bintang, Angin semilir sejuk menghantam ombak tanpa deburan, Semua rahasia menja
MENAPAK JEJAK YANG TAK PERNAH HILANG
Refleksi Haul ke-4 Buya KH. Burhanuddin Marzuki Oleh: Humaidi Mufa Empat tahun sudah dan masih kami ingat. Suaranya yang tenang, penuh kebijaksanaan, namun setiap katanya menusu
Terdidik dalam situasi mendadak
By: Jiddah Zainab Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Dan dengan kesempurnaanNya Allah menciptakan Rasulullah menjadi makhluq yang sempurna. Dan selain itu tak ada lagi makhluq y
TERUSLAH BERGERAK DAN JANGAN BERHENTI
Oleh: Humaidi Mufa Jika jatuh, bangunlah kembali. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita sedang belajar berdiri lebih kuat. Jika gagal, cobalah lagi. Karena kegagalan bukan akhir, m
MAGICAL WORDS
By Halimah Sadiyah Kita mungkin sering melihat dan membaca sebuah tulisan, atau mendengar sebuah kata yang bernyawa dari lisan orang-orang yang mampu memberikan dampak po
11 hari menjemput Surga
In Memoriam Koh Abun By: Jiddah Zainab Tak seorang pun yang tahu bagaimana cerita hidup yang akan di jalaninya. Dari mulai di lahirkan sang Bunda sampai akhir dari perjalanannya di d
UPDATE AND UPGRADE
By: Jiddah Zainab Kehidupan manusia akan selalu melalui poros nya. Dalam konteks keimanan, poros seorang mukmin adalah taqdir Allah. Bagi kaum tertentu, taqdir Allah adalah
JALUR SUNYI
Oleh : Halimatus Sadiyah Momentum hari raya masih sangat terasa, hal ini pun menjadi ruang untuk beradaptasi kembali, mengusahakan kebiasaan baik yang dilakukan dibulan ramadhan dan ha